Home >

About >

Publication >

Contact >

Log Out >

 

 

  Parameter Pemeriksaan
  Urine
 Narkoba Pada Alat
  Skrining:

  Penggunaan Dan
  Pendeteksian Alat
  Skrining

  Alur Pemeriksaan Urine

 

SKRINING URINE MERUPAKAN PEMERIKSAAN AWAL

Balai Laboratorium Narkoba BNN merupakan salah satu laboratorium yang ditunjuk untuk pemeriksaan narkoba sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 194/MENKES/SK/VI/2012. Sampel yang diperiksa berupa raw material (serbuk, kristal, tablet, kapsul, bahan/daun, biji, batang) , spesimen (urine, darah, dan rambut), maupun sediaan farmasi seperti wadah plastik, alat hisap, botol, alat suntik, maupun wadah bekas tempat yang dicurigai narkoba.

Khusus untuk pemeriksaan spesimen urine yang mengandung narkoba di Balai Laboratorium Narkoba BNN menggunakan dua tahapan pengujian, diantaranya: pemeriksaan awal (skrining) dan lanjutan (konfirmasi). Pemeriksaan skrining merupakan pemeriksaan awal pada obat pada golongan yang besar atau metabolitnya dengan hasil presumptif positif atau negatif. Secara umum pemeriksaan skrining merupakan pemeriksaan yang cepat, sensitif, tidak mahal dengan tingkat presisi dan akurasi yang masih dapat diterima, walaupun kurang spesifik dan dapat menyebabkan hasil positif palsu karena terjadinya reaksi silang dengan substansi lain dengan struktur kimia yang mirip. Pada pemeriksaan skrining, metode yang sering digunakan adalah immunoassay dengan prinsip pemeriksaan adalah reaksi antigen dan antibodi secara kompetisi. Pemeriksaan skrining dapat dilakukan di luar laboratorium dengan metode onsite strip test. Berapa hal yang perlu diperhatikan pada alat skrining adalah registrasi dari Kementerian Kesehatan, parameter yang akan di uji, nilai cut off, expired date, waktu deteksi dan penyimpanan serta untuk hasil skrining perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan (konfirmasi) ke Laboratorium yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan dengan tujuan menghindari adanya positif palsu pada rapid test. Peraturan mengenai penunjukan Laboratorium Pemeriksaan Narkoba tertuang pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 194/MENKES/SK/VI/2012.

Pemeriksaan konfirmasi merupakan pemeriksaan lanjutan dan digunakan pada pemeriksaan spesimen dengan hasil positif pada pemeriksaan awal (skrining). Pemeriksaan konfirmasi menggunakan metode yang sangat spesifik untuk menghindari terjadinya hasil positif palsu. Metoda konfirmasi yang sering digunakan adalah gas chromatography / mass spectrometry (GC/MS) atau liquid chromatography/mass spectrometry (LC/MS) yang dapat mengidentifikasi jenis obat secara spesifik dan tidak dapat bereaksi silang dengan substansi lain. Kekurangan metode konfirmasi adalah waktu pengerjaannya yang lama, membutuhkan keterampilan tinggi serta biaya pemeriksaan yang tinggi.


Literatur:

  1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 194/MENKES/SK/VI/2012 mengenai Penunjukan Laboratorium Pemeriksaan Narkoba.

  2. Bamdad Riahi-Zanjani, Pharmacology On Line, April 2014, “False Positive and False Negative Results in Urine Drug Screening Tests: Tempering Methods and Specimen Integrity Test.”