bnn  
HOME ABOUT  PUBLIKASI NPS TABULASI NPS CONTACT US
 

Jenis-jenis/Penggolongan NPS

Lampiran zat NPS terdeteksi di Indonesia

 

May 24, 2016

 

PIPERAZINE

Senyawa Piperazine sudah lama dikenal sebagai obat anti antelmintika (anti parasit) yaitu obat anti kecacingan. Pada tahun 1944 senyawa turunan piperazine yaitu Benzyl piperazine (BZP) disintesis. Meskipun dari struktur kimia kedua senyawa tersebut mirip namun efek penggunaan kedua senyawa tersebut berbeda. Senyawa piperazine tidak memiliki sifat sebagai senyawa psikoaktif (merangsang sistem saraf pusat), sedangkan BZP tidak pernah digunakan sebagai obat cacing, sehingga senyawa ini seringkali disalahgunakan karena efek stimulan yang dihasilkan mirip dengan golongan amfetamina. Era tahun 1970-an BZP dikenal sebagai obat antidepresan yang potensial, dan sempat diproduksi dengan merek dagang tertentu, namun produksinya dihentikan karena ternyata memiliki efek yang menyerupai ATS terutama MDMA (ecstasy). Senyawa BZP biasanya merupakan senyawa dalam bentuk serbuk warna putih dan seringkali juga disalahgunakan dalam bentuk tablet.

Tahun 2006, senyawa BZP pertama kali beredar di Indonesia yang dianalisi oleh Laboratorium Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam bentuk tablet warna putih dalam kemasan bertuliskan “Flying star” dan tablet warna merah dalam kemasan bertuliskan “Red Dragon”. Penampakan fisik tablet ini mirip dengan tablet ecstasy pada umumnya, namun 50% lebih tebal. Hasil analisis menyatakan bahwa kedua tablet mengandung senyawa Benzyl Piperazine.



Gambar 1. Tablet mengandung BZP dan TFMPP dalam kemasan
“Flying Star” dan “Red Dragon”

Gambar 2. Tablet warna kuning logo Toyota mengandung senyawa
1-benzyl-4-methylPiperazine (MBZP)


Setahun berikutnya, 2007 Laboratorium Uji dan Penelitian Drug Enforcement Administration (DEA) Virginia, USA juga menerima sampel “Flying Star” dan “Red Dragon” dari Singapura yang konon berasal dari Indonesia. Hasil analisis Laboratorium DEA menunjukkan bahwa pada tablet dalam kemasan “Flying star” mengandung BZP sebanyak 155 mg/tablet dan dalam kemasan “Red Dragon” 68 mg/tablet. Selain itu mengandung juga sejumlah kecil bahan aktif lainnya yang merupakan turunan dari senyawa piperazine lainnya yaitu 1-(3-trifluoromethylphenyl)piperazine atau disebut TFMPP. Pada kemasan tertulis juga kandungan lain dari tablet yaitu mengandung vitamin C dan Asam amino, dan mengklaim dapat meningkatkan energy selama 6-8 jam.

Di Indonesia, produk yang mengandung BZP pernah didaftarkan dengan nama dagang Bliss, Jump, Zoom dan ESP. Produk tersebut disamarkan dalam suplemen makanan yang mengandung herbal "cayenne pepper" atau "pepper extract".

Bliss dan Zoom didaftarkan sebagai suplemen makanan impor dari Selandia Baru. Pada klaim registrasi yang diajukan pihak importir, produk tersebut diklaim membantu meningkatkan metabolisme tubuh dan tidak terdapat informasi mengenai kandungan BZP di dalamnya. Pengujian awal dengan menggunakan pereaksi yang lazim digunakan untuk memeriksa adanya bahan kimia obat pada jamu atau suplemen makanan memberikan hasil negatif, namun pada pengujian dengan menggunakan alat GC/MS (gas-chromatography coupled to mass spectrometry), ternyata Bliss dan Zoom menunjukkan hasil positif mengandung 1-benzylpiperazine (BZP).

Menurut UNODC, BZP paling sering dikombinasikan dengan TFMPP dengan perbandingan komposisi mulai dari 2 : 1 sampai 10 : 1 dimana dapat memberikan efek seperti mengkonsumsi ecstasy (MDMA). BZP bekerja dengan cara merangsang susunan saraf pusat (central nervous system/ CNS stimulant), sedangkan TFMPP memberi efek halusinogen mirip LSD. Kombinasi BZP dan TFMPP bertujuan untuk meningkatkan efek stimulan.

Hal inilah yang membuat BZP pernah menjadi polemik pada beberapa tahun belakangan ini. Berbagai pro dan kontra BZP timbul karena potensi risiko penyalahgunaannya dibandingkan dengan manfaatnya yaitu sebagai alternatif substitusi bagi penyalahguna Amphetamine Type Stimulant (ATS) seperti MDMA (ekstasi) dan Metamfetamina (sabu). Penggunaan BZP secara terus menerus dapat menyebabkan hyperthermia (peningkatan suhu tubuh), kejang dan pingsan, penggumpalan darah di pembuluh darah, hipertensi, peningkatan denyut jantung, gagal ginjal akut, bahkan kematian.



Sampai sekarang senyawa Piperazine yang beredar di Indonesia dan dianalisis oleh Laboratorium BNN antara lain dalam bentuk serbuk dan tablet yang mengandung senyawa BZP, 1-benzyl-4-methylpiperazine (MBZP), TFMPP, dan 1-(3-Chlorophenyl)-4-(3-chloropropyl) piperazine (mCPP), dengan proporsi pada tahun 2015 didominasi oleh sampel mengandung BZP, sedangkan pada tahun 2016 (hingga Juni 2016) didominasi oleh sampel mengandung senyawa MBZP.

Pustaka

[1] Elliot, S., Current awareness of piperazines: pharmacology and toxicology, Drug Testing and Analysis 3 (2011): 430-8

[2] UNODC, Recommended Methods for the Identification and Analysis of Piperazines in Seized Materials, New York: United Nations, 2013

[3] Wood, D.M., et.al., Dissociative and sympathomimetic toxicity associated with recreational use of 1-(3-trifluoromethylphenyl)piperazine (TFMPP) and 1-benzylpiperazine (BZP), Journal of Medical Toxicology 4 (2008): 254-7.


Website lab    : drugslaboratory@bnn.go.id
Fax lab          : (021) 80886555
Telephone    : (021) 80871566, (021) 80871567 ext. 237