bnn  
HOME ABOUT  PUBLIKASI NPS TABULASI NPS CONTACT US
 

Jenis-jenis/Penggolongan NPS

Lampiran zat NPS terdeteksi di Indonesia

 

May 24, 2016

 

Synthetic Cathinone


Pada awal Januari 2013, media ramai memberitakan tentang temuan kapsul yang mengandung kristal warna putih yang setelah diperiksa oleh Laboratorium Badan Narkotika Nasional dinyatakan barang bukti tersebut mengandung senyawa methylon yang merupakan senyawa Synthetic Cathinone.

Lalu apa itu Cathinone, Synthetic Cathinone dan senyawa turunan Cathinone?

Cathinone sebenarnya merupakan senyawa alkaloid yang terdapat dalam tanaman khususnya daun khat (Catha edulis). Tanaman khat pertama kali ditemukan di Yaman abad 18 oleh seorang ahli Botani Peter Forskal dan dikenal dibeberapa negara di Afrika dan Semenanjung Arab, Timur tengah dengan kandungan lain selain cathinone yaitu norpseudoephedrine dan cathine. Di Indonesia tanaman khat ini banyak ditemukan di sekitar wilayah Cisarua, Bogor. Daun ini konon dipercaya oleh masyarakat setempat dapat memberikan efek stimulan dan meningkatkan vitalitas. Daun kahat dapat dikonsumsi dengan cara mengunyah langsung daun segar ataupun dikeringkan dan diseduh sebagai teh, oleh karena itu seringkali daun khat dikenal dengan nama “Teh Arab”. Cathinone dapat memberikan efek psikoaktif stimulan dan euforia seperti metamfetamina (sabu).

                                                            

Gambar 1. Kapsul berisikan kristal warna putih mengandung methylone                    Gambar 2. Kristal mengandung methylone

Sythetic Cathinone merupakan Cathinone sintetis merupakan golongan phenethylamines β-keto dan secara kimia mirip dengan amfetamina dan metamfetamina dan merupakan senyawa sintesis (hasil sintesis di laboratorium) yang peredarannya seringkali dicampur pada garam mandi yang disebut dengan “bath salts” dengan penampakan fisiknya berupa kristal (serbuk) dan seringkali juga dipasarkan dalam bentuk tablet. Synthetic cathinone sebenarnya sudah lama peredarannya yaitu Methcathinone, yang pertama kali disintetis pada tahun 1928 dan merupakan senyawa turunan cathinone yang pertama kali dilaporkan penyalahgunaannya pada awal tahun 1990, kemudian mulai berkembang pada senyawa lain yaitu Mephedrone yang merupakan senyawa synthetic cathinone yang paling banyak disalahgunakan di Eropa. sedangkan MDPV (3,4 methylendioxypyrovalerone) paling banyak disalahgunakan di Amerika Serikat. Methylone (3,4 methylendioxymethcathinone) merupakan senyawa synthetic cathinone yang cukup populer pada tahun 2010 sejak kemunculannya pada tahun 2010 yang secara kimia analog dengan MDMA (ecstasy).

Methylone pertama kali disintesis tahun 1994 oleh seorang chemist Peyton Jacob III dan Alexander Shulgin yang dijual pertama kali dengan nama explosion di tahun 2004 dalam bentuk cairan semprot yang dikemas dalam botol kecil ukuran 5 cm namun sejak tahun 2005 keberadaannya mulai dilarang beredar.

Senyawa synthetic cathinone memberikan efek stimulan seperti narkotika jenis kokain, MDMA (ecstasy) dan metamfetamina (sabu). Pada sistem saraf pusat senyawa synthetic cathinone berikatan langsung dengan reseptor adrenergik yang dapat menginduksi pelepasan neurotransmitter (senyawa yang menghantarkan sinyal di otak) seperti dopamin, norepinefrin, dan serotonin sehingga kadarnya meningkat di otak dan hal inilah yang menimbulkan efek stimulan (perangsang). Senyawa golongan synthetic cathinone selain memberikan efek stimulan juga dapat menyebabkan adiksi yang kuat bagi penggunanya.

Seperti halnya dengan senyawa NPS lainnya, penggunaan senyawa synthetic cathinone juga dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan antara lain pada sistem organ kardiovaskular menyebabkan hipertensi, tachycardia, pada sistem pernafasan menyebabkan sesak atau sulit nafas dan asidosis pada sistem pernafasan. Selain menyerang organ vital, secara psikis efek penggunaan synthetic cathinone dapat menyebabkan panik berlebih, paranoid, gangguan kognitif dan disorientasi ruang dan waktu.

Peredaran synthetic cathinone di Indonesia biasanya ditemui dalam bentuk kristal, bentuk kristal juga ditemui mengandung senyawa ethylon turunan synthetic cathinone lainnya. Selain bentuk kristal, synthetic cathinone juga ditemui dalam bentuk tablet. Sampel tablet yang pernah diuji di Balai Laboratorium diantaranya mengandung senyawa MDPV (3,4 methylendioxypyrovalerone) dimana menurut beberapa peneliti dilaporkan bahwa senyawa MDPV (3,4 methylendioxypyrovalerone) memiliki efek stimulan 10 kali lipat lebih kuat dibandingkan dengan kokain.


Gambar 3. Tablet krem logo “nike” yang mengandung MDPV (3,4 Methylendioxypyrovalerone) 

Gambar 4. Cairan warna biru dan coklat dalam kemasan yang mengandung 4-chloromethcathinone

Modus terbaru peredaran synthetic cathinone adalah dalam bentuk cairan atau larutan berwarna didalam kemasan botol kecil berlabel yang disebut “Blue Safir”. Hasil analisis sampel tersebut oleh Balai Laboratorium BNN dinyatakan mengandung senyawa 4-chloro-methcathinone atau dikenal dengan nama clephedrone. Senyawa 4-chloro-methcathinone merupakan turunan methcathinone yang memiliki kemiripan sifat dengan metamfetamina (sabu). Di beberapa negara didunia seperti Cina, Jerman, dan Swedia telah mencantumkan senyawa 4-chloro-methcathinone kedalam daftar narkotika didalam regulasi mereka.

Sebanyak 97 jenis senyawa synthetic cathinone telah dilaporkan oleh negara-negara didunia ke UNODC (United Nations Office on Drug and Crime) berdasarkan kasus yang terjadi di tiap negara sampai pada Juli 2015. Sejak awal tahun 2013 hingga sekarang, jenis senyawa synthetic cathinone yang beredar di Indonesia menurut data analisis Balai Laboratorium BNN antara lain methylon, ethylon, mephedron, pentedron, buphedrone, ethyl cathinone, 4-MEC, MDPV (3,4-methylendioxymethcathinone), 4-chloromethcathinone dan MPHP (4'-Methyl-α-pyrrolidinohexiophenone).


Gambar 5. Perbedaan struktur kimia MDMA yang analog dengan methylone
(perbedaan hanya pada gugus keton (yang diberikan garis putus-putus)


Referensi

  1. Baumann et al, Powerful Cocaine-Like Actions of 3,4-methylendioxypyrovalerone (MDPV) a Principal Constituent of Psychoactive ‘Bath Salts’ Products. (2012). Neuropsychopharmacology, 38, 552-562.

  2. German C, e. a. (2014). Bath salts and synthetic cathinones: An emerging designer drug. Life Sci, 97, 2-8.

  3. Karila, L., & et al. (2015). Synthetic Cathinones: A New Public Health Problem. Current Neuropharmacology, 13, 12-20.

  4. UNODC. (2015). Recommended methods for the Identification and Analysis of Synthetic Cathinones in Seized Materials. New York: United Nations.


Website lab    : drugslaboratory@bnn.go.id
Fax lab          : (021) 80886555
Telephone    : (021) 80871566, (021) 80871567 ext. 237