bnn  
HOME ABOUT  PUBLIKASI NPS TABULASI NPS CONTACT US
 

Jenis-jenis/Penggolongan NPS

Lampiran zat NPS terdeteksi di Indonesia

 

May 24, 2016

 

PLANT BASED-SUBSTANCES


  1. KHAT

Tanaman khat sudah lama tumbuh subur di Indonesia yaitu dikawasan dingin cisarua bogor jawa barat. Tanaman Khat ( Catha edulis ) termasuk famili celastraceae yang merupakan tanaman asli Afrika dan Semenanjung Arab. Asal mula tanaman ini dibawa dari Yaman ( Timur Tengah) dan tumbuh subur diladang cisarua sejak tahun 2005. Masyarakat sekitar cisarua menanam tanaman khat dipekarangan rumahnya karena diyakini dapat menjadi obat kuat atau peningkat vitalitas. Selain itu juga ada yang membudidayakannya untuk dijual kepada turis timur tengah yang dengan dengan harga tinggi. Daun khat sangat terkenal sebagai teh arab di Indonesia.

Tanaman ini ramai diperbincangkan oleh masyarakat setelah kasus methylone tahun 2013 kemudian berlanjut pada temuan ladang tanaman khat. Badan Narkotika Nasional menemukan ladang tanaman khat yang berada di puncak Bogor. Ada 2 lokasi ladang yang ditemukan, pertama berada di pekarangan Villa Ever Green, Tugu Utara, Cisarua, Bogor. Sementara yang kedua berada di area kebun dekat Villa Okem, tidak jauh dari Sungai Desa Ciburial. Kedua lokasi berjarak kurang lebih 1 km. Tipe tanaman khat ada 2 yaitu khat merah dan khat hijau. Berikut adalah gambar daun khat merah dan daun khat hijau :


                                       

Gambar 1. Tanaman Khat Merah                                                  Gambar 2. Tanaman Khat Hijau


Gambar 3. Data dan Fakta Tanaman Khat

 

Kandungan kimia Catha edulis adalah katinon yang merupakan senyawa alkaloid yang merupakan komponen terbesar pada tanaman ini. Struktur dan profil farmakologi senyawa ini mirip dengan amfetamin sintetik. Selain mengandung senyawa bioaktif lainnya seperti tannin, asam askorbat, phenilalkilamin, alkaloid cathine, flavonoid dan triterpenoid.

Mengunyah Khat untuk mendapatkan efek psikoaktif adalah kebiasaan sosial di masyarakat yang tinggal di daerah-daerah ini. Daun khat dikonsumsi segera setelah panen dan daun yang fresh (segar) merupakan tipe daun yang disukai karena pada daun segar kandungan katinona belum terdegradasi menjadi katina yang dapat mengurangi efek psikoaktifnya. Namun daun yang sudah kering ('Graba') juga memungkinkan dikonsumsi. Daun pucuk segarnya sering dikonsumsi baik langsung di kunyah maupun diseduh seperti teh.

Tanaman khat mempunyai beberapa nama. Diluar negeri disebut 'qa' , 'gat' , 'chatting' , ' miraa' , ' murungu ' dan ' Arab atau teh Abyssinian'. Di Indonesia tanaman ini popular dengan sebutan teh arab.

Ketika mengunyah daun khat diperkirakan terjadi penyerapan senyawa aktif yang setara dengan sekitar 5 mg amfetamina. Efek farmakologis yang terjadi antara lain kewaspadaan, euforia, hipertermia, anoreksia, denyut jantung dan tekanan darah. Kematian yang dikaitkan dengan konsumsi tunggal khat belum dilaporkan. Namun, penggunaan jangka panjang dari khat dikaitkan dengan efek samping yaitu gangguan kejiwaan (psikosis depresi), kerusakan organ utama tubuh, serta gangguan neurologis mirip dengan pengguna amfetamina dan kokain.

 

  1. Kratom

Kratom mempunyai nama latin Mitragyna speciosa. Mitragyna speciosa (dari keluarga Rubiaceae) merupakan pohon besar yang biasa hidup di daerah tropis dan sub - tropis di Asia Tenggara . Di Thailand, pohon yang dikenal sebagai Kratom ditemukan di seluruh area di Thailand tetapi terutama di wilayah selatan, meskipun menanam dan memanen dilarang. Kratom memiliki beberapa sebutan antara lain : ‘thang' , 'kakuam' , ' thom' , 'ketum ' dan 'biak' .

Kratom ditemukan di Indonesia pada tahun 2013 tetapi sudah dalam bentuk serbuk berwarna hijau yang dihasilkan dari tumbuhan kratom atau kratom kering. Laboratorium BNN beberapa kali menerima dan menganalisis sampel serbuk berwarna hijau yang mengandung senyawa mitragynine. Berikut adalah gambar tanaman kratom dan kratom dalam bentuk serbuk warna hijau:


Gambar 4. Tanaman Kratom(kiri), serbuk warna hijau kratom(tengah),
sampel serbuk kratomyang dianalisis oleh Laboratorium BNN

 

Kratom mengandung banyak alkaloid termasuk mitragynine , mitraphylline , dan 7-hydroxymitragynine. Secara tradisional, kratom telah digunakan di Malaysia dan Thailand oleh buruh dan petani untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga sebagai pengganti opium dan obat tradisional, diduga karena memiliki efek farmakologis seperti morfin.

Pada awal tahun 2000-an, produk berlabel 'kratom asetat' atau 'mitragynine asetat' beredar di Eropa, meskipun ditemukan bahwa tak satu pun dari senyawa tersebut yang mengandung mitragynine. Baru-baru ini, produk yang mengandung kratom telah dijual sebagai 'dupa' untuk efek psikoaktif, tetapi konsentrasi aktif komponen mitragynine dan 7-hydroxymitragynine dalam produk ini berbeda tergantung pada berbagai tanaman yang digunakan, lingkungan dan waktu panen.

Survei internet yang dilakukan oleh EMCDDA pada tahun 2008 dan 2011 mengungkapkan bahwa kratom merupakan salah satu NPS yang paling banyak diperdagangkan. Namun karena kratom sering tidak dipantau dalam survei penyalahgunaan narkoba, maka hanya terdapat sedikit informasi tentang prevalensi penggunaannya.

Cara mengkonsumsi daun kratom biasanya dikunyah dalam bentuk segar ataupun dijadikan serbuk untuk diseduh menjadi teh. Meskipun meningkatnya penggunaan senyawa ini, literatur ilmiah tentang efek dan toksisitas kratom masih sangat langka. Kratom adalah stimulan sistem saraf pusat, yang mengandung lebih dari 40 alkaloid yang telah diisolasi. Dalam dosis rendah dilaporkan memiliki efek stimulan (digunakan untuk memerangi kelelahan selama jam kerja yang panjang), sementara pada dosis tinggi dapat memiliki efek sedatif - narkotika. Pada tahun 1921, alkaloid utama mitragynine pertama kali diisolasi dalam tanaman ini. Mitragynine memiliki aktivitas atletik opioid dan turunannya 7 - hydroxymitragynine ( 7 - OH - mitragynine ) menjadi lebih kuat dari mitragynine atau morfin.


  1. Salvia divinorum

Salvia divinorum (famili mint Lamiaceae) adalah tanaman psikoaktif yang ditemukan di kawasan hutan Oxaca, Meksiko. Tanaman ini secara tradisional digunakan oleh orang Indian Mazatec untuk ritual-ritual keagamaan dan sekaligus untuk tanaman obat walaupun belum ada perijinan Salvia divinorum atau bahan aktif salvinorin A untuk dijadikan obat. Senyawa aktif Salvinorin A (Neoclerodane diterpen) adalah senyawa aktif yang memberikan efek psikoaktif dari tanaman ini. Konsentrasi salvinorin A di daun salvia divinorum bervariasi dan tergantung pada tahap perkembangan tanaman dan jenis persiapannya.

Baik salvia divinorum maupun salvinorin A berada di bawah pengawasan internasional. Namun, karena meningkatnya penggunaan tanaman ini sebagai senyawa NPS, maka tanaman dan senyawa salvinorin A sudah masuk regulasi di beberapa negara.

Tanaman Salvia divinorum tidak tumbuh di Indonesia dan belum pernah ditemukan kasus tentang penyalahgunaan terhadap tanaman ini. Tanaman ini tumbuh di daerah yang beriklim tropis serta didalam hutan yang berkabut namun dapat bertahan hidup pada daerah subtropik yang memiliki 4 musim yaitu Musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Berikut adalah gambar tanaman Salvia divinorum:


Gambar 5. Tanaman Salvia divinorum

 

Sebutan lain untuk tanaman Salvia divinorum antara lain 'Maria Pastora', 'Sage dari Pelihat', 'Diviner Sage', 'Salvia', 'Sally-D', 'Magic Mint', 'Purple Sticky', 'Shepherdess in Herb'. Salvia divinorum biasanya dijual sebagai bibit atau daun, namuin ekstrak cair konon mengandung salvinorin A (dikenal sebagai ‘the fresh-man selection’ atau 'starter pack'). Namun pernah ditemukan produk mengandung salvia ddaivinorum dengan konten yang berbeda dengan yang tertulis pada label produk. Senyawa lain yang terkandung dalam produk ini antara lain Vitamin E dan kafein. Salvia divinorum dikonsumsi dengan cara mengunyah daun segar atau daun segar ditumbuk dan direndam dengan air kemudian diminum. Namun dilaporkan pengguna menghirup uap ekstrak salvinorin A, atau menghisap daun kering dari tanaman ini. Menghisap daun kering dapat menghasilkan halusinasi singkat namun intens. Penelitian pada hewan menunjukkan tanaman Salvia divinorum memiliki toksisitas rendah. Sejauh ini, belum ada laporan tentang korban jiwa dari penggunaan Salvia divinorum.


Pustaka

[1] Dhaifalah I. and Santavy J., ‘Khat habit and its health effect. A natural amphetamine’, Biomedical Papers, 2004, 148, 11-5

[2] Babu, K.M., McCurdy, C.R. and Boyer, E.W., ‘Opioid receptors and legal highs: Salvia divinorum and Kratom’, Clinical Toxicology (Philadelphia), 2008, 46 (2), 146-52

[3] P. Kalix, “ Khat : A Plant with Amphetamine Effects, “ Journal of Substance Abuse Treatment, Vol. %, No. #, 1988, pp. 163-169


Website lab    : drugslaboratory@bnn.go.id
Fax lab          : (021) 80886555
Telephone    : (021) 80871566, (021) 80871567 ext. 237