HOME ABOUT  PUBLIKASI NPS TABULASI NPS CONTACT US
 

Jenis-jenis/Penggolongan NPS

Lampiran zat NPS terdeteksi di Indonesia

 

May 24, 2016

 

SYNTHETIC CANNABINOID

Synthetic cannabinoid, masih banyak orang yang belum tahu asal mula peredaran zat ini dan mengapa orang menggunakan zat ini. Namanya muncul belakangan ketika di publik ramai diberitakan bahwa synthetic cannabinoid ini terkandung di dalam tembakau merk Gorilla dan herbal blend dengan merk Good Shit yang populer sebelumnya. Berikut adalah gambar tembakau gorilla dan herbal blend good shit:

Gambar 2. Herbal blend merk Good shit

Gambar 1. Tembakau merk Gorilla

Pengakuan dari beberapa pemakainya bahwa penggunaan zat ini akan membuat pemakainya diam sesaat tak bergerak seperti kaku namun kemudian jika berlanjut akan membuat pemakainya mengalami halusinasi dan tremor atau gemetaran. Efek yang dirasakan tidak lama hanya beberapa menit saja namun pemakainya seperti sudah lama tidak sadar terhadap sekelilingnya.
Synthetic cannabinoid merupakan zat sintetis (zat hasil sintesa di laboratorium) yang  efeknya memungkinkan pengikatan dengan reseptor cannabinoid yang diketahui, yaitu CB1 atau CB2 pada sel manusia. Reseptor CB1 terletak terutama di otak dan sumsum tulang belakang dan bertanggung jawab atas efek psikoaktif sama halnya seperti ganja, sedangkan reseptor CB2 terletak terutama di limpa dan sel-sel sistem kekebalan tubuh dan dapat memediasi efek kekebalan - modulasi.
Sintetik cannabinoid berbentuk serbuk yang efeknya sama dengan penggunaan ganja karena menempati reseptor di tubuh sama dengan penggunaan ganja. Serbuk synthetic Cannabinoid ini umumnya disemprotkan pada sampel herbal atau bahan lain kemudian dikeringkan dan dikemas menjadi kemasan herbal ataupun rokok.
Sintetik cannabinoid pada mulanya disintesa oleh seorang doktor di bidang kimia organik yang bernama Jhon W. Huffman yang merupakan seorang ahli riset dari universitas Clemson di Amerika. Jhon W. Huffman dan timnya pada tahun 1990-an telah berhasil mensintesa sekitar 20-an jenis sintetik cannabinoid. Latar belakang penelitiannya adalah pencarian terhadap obat-obatan sintetis yang mampu menyembuhkan penyakit multisklerosis, pereda nyeri pada pasien HIV/AIDS maupun pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Ia dan timnya sama sekali tidak menduga hasil risetnya ini ternyata sekarang banyak disalahgunakan sebagai narkoba yang berbahaya bagi pemakainya. Bahkan ia sangat terganggu dengan para pecandunya dan menganggap mereka bodoh secara sembarangan menggunakan zat tersebut.
Hasil risetnya bersama tim juga telah menginisiasi para ahli farmasi di universitas-universitas dan industri farmasi untuk melakukan riset sejenis terhadap zat synthetic cannabinoid ini sehingga banyak bermunculan seri-seri synthetic cannabinoid yang penamaannya bukan hanya dari nama pembuatnya namun juga berasal dari nama universitas yang melakukan riset, industri farmasi bahkan dari nama girl band ataupun nama mesin roket untuk mengidentifikasinya.
Sebagai contoh zat synthetic cannabinoid dengan nama JWH-018, JWH-073, JWH-398, JWH-015, JWH-122, JWH-210, JWH-081, JWH-200, JWH-250, JWH-251 yang merupakan dari singkatan nama pembuatnya yaitu Jhon W. Huffman. Atau juga HU-210 yang merupakan singkatan dari Hebrew University. Kemudian AM-906, AM-411, AM-4030, AM-694 yang merupakan singkatan dari Alexandros Makriyannis. CP-47,CP-497-C8, CP-55, CP-940, CP-55, CP-244 dari Pfizer , WIN-55,212 dari singkatan Sterling Winthrop, RSC-4 singkatan dari research chemical supply, AKB-Fluoro 48 dari girl band terkenal di Jepang, XLR-11 dari nama mesin roket. UNODC sendiri dalam bukunya The Challenge of New Psychoactive Substances telah mempubilkasikan 60 jenis synthetic cannabinoid dan di Indonesia saat ini sudah beredar 8 jenis syntehtic cannabinoid yaitu JWH-018, XLR-11, 5-fluoro AKB 48, MAM-2201, FUB-144, AB-Chminaca, AB-Fubinaca dan CB-13.
Peredaran synthetic cannabinoid di Indonesia umumnya dijual secara ilegal dalam bentuk daun-daunan/sampel herbal yang dikemas dalam kemasan menarik dengan gambar berwarna-warni. Kemunculan pertama kemasan herbal yang mengandung sintetik cannabinoid ini adalah kemasan herbal seperti good shit yang ternyata hasil analisis di laboratorium BNN mengandung zat 5-fluoro AKB 48 dan MAM-2201. Dua zat ini tergolong dalam synthetic cannabinoid yang efeknya dalah halusinogen dan stimulan dan sifak adiksinya sangat kuat sehingga dapat mempercepat adiksi/ketergantungan terhadap zat tersebut.
Daun-daunan dalam kemasan herbal tadi sebenarnya adalah jenis daun-daunan yang tidak berbahaya namun telah disemprotkan zat sintetik cannabinoid di dalamnya sehingga efeknya menjadi efek narkoba bila digunakan. Jenis daun-daunan itu menurut UNODC yang sering digunakan diantaranya adalah Pedicularis densiflora, Nymphacea caerulea, Leonotis leonurus, Leonurus sibiricus, Carnavalia maritima dan Zornia latifolia.
Synthetic cannabinoid menurut UNODC berbentuk serbuk kristalin yang berwarna putih, abu-abu bahkan coklat kekuningan. Umumnya larut dalam pelarut organik seperti metanol, etanol, acetonitril, etil asetat dan aseton sehingga setelah larut akan dengan mudah disemprotkan ke dalam bahan lain semisal daun-daunan herbal ataupun tembakau.
Peredaran synthetic cannabinoid ini dalam kemasan sampel herbal warna-warni yang mencolok ketika kemunculannya pertama adalah penjualan melalui internet yang dapat diakses bebas oleh semua kalangan sehingga ketika peredarannya sudah sangat menyebar, produk-produk tersebut banyak yang diawasi sehingga bandar narkoba mulai mencari cara penjualan lainnya yaitu dengan menggantinya menggunakan sampel tembakau. Seperti diketahui bahwa masyarakat Indonesia sangat mengenal tembakau dan dapat digunakan secara bebas. Synthetic cannabinoid yang disemprotkan pada tembakau tidak menarik perhatian kalangan penegak hukum untuk menindaknya dan jumlah perokok di Indonesia cukup besar sehingga pasar inilah yang kemudian dibidik oleh bandar-bandar tersebut. Sehingga kemudian muncullah tembakau merk Gorilla yang ternyata telah disusupi zat synthetic cannabinoid.
Perkembangan synthetic cannabinoid ini saat ini sudah pada generasi ketujuh, diantaranya adalah:

  • Generasi pertama (seri JWH-018, JWH-019, JWH-073)

  • Generasi kedua (seri AM-2201, RCS-4, JWH-122)

  • Generasi ketiga (seri AKB48, STS-135)

  • Generasi keempat (seri UR-144, 5-Fluoro-UR-144)

  • Generasi kelima (seri Pb-22, 5-Fluoro-PB-22, BB-22)

  • Generasi keenam (seri AB-Pinaca, Ab-Fubinaca, ADB-Fubinaca)

  • Generasi ketujuh (seri THJ-018, FUB-Pb-22, THJ-2201)

Synthetic cannabinoid ini berdasarkan struktur kimia dapat dibedakan menjadi beberapa jenis diantaranya adalah:

  • Classical cannabinoid (secara struktur kimia analog dengan cannabis diantaranya adalah: AM-411, AM-906, HU-210, O-1184)

  • Non-classical cannabinoid (yaitu cyclohexylphenols atau 3-arylcyclohexanols diantaranya adalah: CP-55,244, CP-55,940, CP 47,497 dan C6-9 homologues)

  • Hybrid cannabinoids (merupakan kombinasi dari classical cannabinoid dan non-classical cannabinoid diantaranya adalah: AM-4030)

  • Aminoalkylindols yang dibedakan enjadi beberapa jenis dinatarnya adalah:

  • Naphthoylindols (JWH-015, JWH-018, JWH-073, JWH-081, JWH-122, JWH-200, JWH-210, JWH-398)

  • Phenylacetylindoles (JWH-250, JWH-251)

  • Benzoylindoles (pravodiline, A-694, RSC-4)

  • Naphthylmethylindoles (JWH-184)

  • Cyclopropoylindoles (UR-144, XLR-11)

  • Adamantoylindoles (AB-001, AM-1248)

  • Indole carboxamide (APICA, STS-135)

  • Eicasonoids  yaitu endocannabinoid seperti anandamide (AEA) dan analognya seperti methanandamide (Am-356)

  • Lain-lain yaitu dyarylpirazoles (rimonabant), naphthoylpyrroles (JWH-307, naphthylmethylindenes (JWH-176) dan indazoles carboxamide (APINACA)

Pustaka

  • Huffman JW, Dai D: Design, synthesis and pharmacology of cannabimimetic indoles; Bioorg Med Chem Lett 4:563;1994.
  • Huffman JW, Zengin G, Wu M, Lu J, Hynd G, Bushell K, Thompson A, Bushell S, Tartal C, Hurst D, et al.: Structureactivity relationships for 1-alkyl-3-(1-naphthoyl)indoles and the cannabinoid CB1 and CB2 receptors: Steric and electronic effects of naphthoyl substituents: new highly selective CB2 receptor agonists; Bioorg Med Chem 13:89; 2005.
  • UNODC:Synthetic cannabinoids in herbal products;http://www.unodc.org/documents/scientifi c/Synthetic_Cannabinoids.pdf (accessed April 2012)
 

Website lab    : drugslaboratory@bnn.go.id
Fax lab          : (021) 80886555
Telephone    : (021) 80871566, (021) 80871567 ext. 237